TESTIMONI DIET OCD, PENGALAMAN SAYA TURUN 22 KILOGRAM DALAM 3 BULAN

TESTIMONI DIET OCD, PENGALAMAN SAYA TURUN 22 KILOGRAM DALAM 3 BULAN

Bahkan disaat tidak teratur dilaksanakan pun selamanya manjur, apalagi kecuali aku teratur mobilisasi diet OCD. Kurusnya Yamadipati Dolken tentu sudah aku saingi.

Saat itu berat badan aku raih 115 kilogram. Saya sih menjadi nggak persoalan bersama dengan badan yang “agak nggak pas” itu. Toh aku memadai cuek dan malas untuk melakoni diet atau usaha-usaha semacamnya. Saya dambakan bebas, tidak buat ada problem diri sendiri.

Namun, suatu ketika, dada kiri aku menjadi ngilu. Beberapa detik sesudah itu menjadi sesak dada ini. keringat dingin belum mengucur, tetapi rasa risau itu tiba-tiba terbayang. Saya membuka Google, mencoba melacak menyadari keadaan layaknya ini punyai makna apa. Beberapa sumber mengatakan bahwa itu gejala sakit jantung.

Saya tetap dambakan mampu makan apa saja, kapan saja. Justru pikiran itu yang tiba-tiba menyergap, ketimbang risau bersama dengan yang namanya kematian. Yah, kecuali sesungguhnya sudah saatnya, siapa kita manusia mampu melawan, bukan? Namun, soal makan apa saja, itu tidak boleh diganggu.

Kesimpulan paling ringan yang mampu aku susun adalah diet. Sayangnya, aku sudah terlanjur malas bersama dengan ragam diet. Sudah terdengar ribet, butuh biaya lagi. Ya maaf, selagi itu pikiran aku mampu sehat tanpa harus nampak banyak biaya. Terdengar egois dan layaknya senang sedap tanpa berusaha? Ya memang.

Setelah berdiskusi bersama dengan sebagian orang yang menyadari tradisi saya, maka ketemu yang namanya diet OCD atau intermittent fasting. Diet ini dipopulerkan oleh Deddy Corbuzier ini paling cocok untuk saya.

Saya punyai tradisi tidak sarapan. Mengapa? Karena sesudah sarapan, perut aku justru mulas dan dambakan boker. Jadi, dari awalnya menjauhi boker di jam-jam sibuk, menjadi tradisi yang berlanjut. Sementara itu, diet OCD mengfungsikan sistem jendela makan, atau lama selagi di mana kamu boleh makan.

Sistem jendela makan ini bermacam-macam. Ada yang delapan, enam, dan empat jam, lantas dilanjutkan bersama dengan makan satu kali sehari. Kamu harus menjadi dari bagian paling awal, yakni makan sepanjang delapan jam sebelum naik ke bagian selanjutnya

Selain harus patuh bersama dengan sistem jendela makan, kamu terhitung harus menyimak menu makanan. Protein dan karbohidrat harus selamanya dicukupi. Telur, daging hewan, tahu, tempe, sayuran hijau, dan buah-buahan harus ada. Satu perihal mutlak lagi yang terhitung harus kamu menyimak adalah minum air mineral sebanyak mungkin. “Jembatan keledai” saya: minum dua gelas besar air mineral setiap 1/2 jam.

Selain sistem jendela makan dan arahan menu, diet OCD yang manualnya disusun menjadi file pdf itu terhitung mengimbuhkan beragam style latihan fisik. Kebanyakan senam ringan yang mampu kamu melaksanakan setiap pagi.

Nah, di sini masalahnya. Saya tidak benar-benar cocok bersama dengan senam dan olahraga begituan. Lantaran sok pintar, aku buat menu diet sendiri. Cukup mudah.

Pertama, untuk olahraga, aku memilih terjadi kaki setiap pagi. Sebelum menjadi redaktur Mojok, aku bekerja di sebuah penerbitan buku sebagai editor. Jarak kantor dari rumah sampai kantor kurang lebih hampir tujuh kilometer. Maka, setiap pagi, menjadi pukul 05.30 aku terjadi kaki dari rumah menuju kantor.

Untuk awalan, supaya perut tidak kaget karena “puasa”, aku makan dua buah pisang. Saya memilih pukul 08.00 dan 10.00 pagi untuk menyantap pisang. Setelah perut miliki kebiasaan puasa sampai pukul 12.00 siang, aku tidak lagi bawa bekal pisang. Air mineral sudah memadai “mengganjal” perut aku yang njembling ini.

Bagaimana bersama dengan perut? Halah, aku sama sekali tidak membayangkan asupan protein dan kalori. Pokoknya makan siang. Saya memilih jendela makan enam jam. Jadi, paling akhir, aku harus makan sebelum pukul 18.00 petang. Namun, lantaran pada dasarnya bandel, sebagian kali aku makan di pukul 19.00 atau 20.00. Apalagi kecuali pacar mengajak makan malam. Tanpa pikir dua kali segera gas!

Setelah tiga bulan diet OCD sok pandai ala saya, sebuah kejutan hadir. Selama tiga bulan itu aku menahan diri untuk menimbang badan. Maka, suatu sore di apotek, aku beranikan diri untuk menimbang badan. Hasilnya? Sebelum diet OCD berat aku menyentuh 115 kilogram. Setelah mobilisasi diet, berat aku menjadi 93 kilogram. Dengan kata lain, aku turun 22 kilogram!

Saya tidak pernah berharap turun sebanyak itu. Saya hanya dambakan mampu makan apa saja, kapan saja tanpa membayangkan “pantangan”. Turun 22 kilogram didalam tiga bulan bagi aku memadai aneh. Namun, meski risau ada persoalan medis, aku justru menjadi benar-benar “ringan”. Meski sesungguhnya 93 kilogram itu tentu saja tetap benar-benar berat.

Karena berhasil, tentu saja aku senang meneruskan diet OCD. Siapa tahu, aku tetap mampu turunkan berat badan sampai 80 kilogram. Namun, disaat manusia keblinger dan lupa diri, Tuhan punyai rencana lain.

Dua hari sesudah merayakan keberhasilan diet OCD bersama dengan makan enak, gigi aku tiba-tiba ngilu 1/2 mati. Setelah periksa ke spesialis sebagian kali, ditemukan aku menderita radang syaraf gigi. Gigi geraham aku tetap bagus, tetapi terjadi peradangan di didalam gigi. Maka, hanya satu solusi adalah membongkar gigi geraham yang memiliki masalah itu untuk mengeluarkan syaraf di mana peradangan terjadi.

Meggi Z bilang bahwa “Daripada sakit hati, lebih baik sakit gigi ini.” Percaya saya, kata-kata Meggi Z itu mbelgedes. Blio belum pernah sakit radang syaraf gigi. Saking sakitnya, sampai-sampai pipi ini menjadi bolong.

Setelah operasi ringan, aku mendapat obat naudzubillah banyak. Seperti kebanyakan obat, butir-butir pahit itu harus diminum sesudah makan. Dan tentu saja, ada yang diminum tiga kali sehari. Maka, setiap pagi, aku terpaksa sarapan. Dan tentu saja, sepanjang satu bulan aku tidak mampu jalur pagi.

Kok tidak diganti olahraga sore? Namanya sudah malas karena rentetan sakit gigi dan pengobatan. Namun itulah, betapa saktinya diet OCD. Bahkan disaat tidak teratur dilaksanakan pun selamanya manjur, apalagi kecuali aku tertib. Mungkin badannya Yamadipati Dolken sudah aku saingi. Ahh, maaf, maksud aku Adipati Dolken.

Baca Juga :