Sejarah Pelayaran Magelhaens

Sejarah Pelayaran Magelhaens

Sejarah Pelayaran Magelhaens

Sewaktu Magelhaens meninggalkan Spanyol

pada tahun 1519 dengan 5 buah kapal kecilnya yang terbuat dari kayu dan kebanyakan berukuran sepanjang kira-kira 21 meter, mirip dengan kendaraan semitrailer modern, kapal-kapal itu berlayar menuju tempat yang tak diketahui dan Magelhaens beserta armadanya berupaya sendirian dalam menaklukkan pelayarannya.


Setelah pertikaian di Maroko dan mengalami cedera lutut yang serius ia mengalami masa paling susah dalam kehidupannya, ia lalu dikunjungi oleh seorang teman lamanya, seorang navigator terkenal, Joao de Lisboa. Mereka berdua membahas cara mencapai Kepulauan Rempah “Maluku” dengan pergi ke barat daya. Melalui Selat El Paso yang konon ialah jalan pintas melewati Amerika Selatan dan kemudian menyeberangi samudera yang belum lama itu ditemukan oleh Balboa sewaktu ia mengarungi tanah genting Panama, mereka yakni bahwa di sisi lain dari samudera ini terletak Kepulauan Rempah.


Karena itulah ia berhasrat untuk melakukan pelayaran dan melakukan apa yang gagal di lakukan columbus dalam menemukan rute barat menuju Timur yang ia yakini bahwa itu lenbih pendek dari pada rute sebelah timur. Tetapi ia membutuhkan dukungan finansial, maka ia pun melakukan apa yang Columbus sendiri pernah lakukan beberapa tahun sebelumnya yakni meminta dukungan Raja Spanyol, yaitu Raja Charles I.


Dan akhirnya pun pelayaran dilakukan pada tanggal 20 September 1519 dengan 5 buah kapal yakni Trinidad, San antonio, Concepcion, Victoria dan Santiago. Pelayaran ini ternyata memakan waktu 6 kali lebih lama dari pada pelayaran yang telah dilakukan Columbus dalam mengarungi Samudera Atlantik yang pertama kali dan saat itu belum terlihat satu selat pun. Semangat juang mereka mulau sedingi cuaca di San Julian dan para armada kapal merasa putus asa dan ingin pulang saja, tidak mengherankan bila terjadi pemberontakan di atas kapal, namun berkat tindakan yang cepat dan tegas di pihak Magelhaens hal itu dapat digagalkan dan 2 pemimpin pemberontak tersebut tewas.


Hingga tanggal 21 Oktober merela berlayar di bawah guyuran air hujan yang membeku dan semua mata terpaku pada sebuah celah di sebelah barat. Akhrinya mereka berbalik dan memasuki selat yang belakangan dikenal sebagai Selat Magelhaens. Namun kapal San Antonio dengan sengaja menghilang di tengah jaringan rumit selat itu dan kembali ke Spanyol, ke-3 kapal yang masih bertahan, diimpit oleh teluk yang sempit di antara tebing-tebing berselimut salju dengan gigih berlayar melewati selat yang berkelok-kelok itu. Para armada mengamati begitu banyaknya api di sebelah selatan yang kemungkinan berasal dari perkemahan orang Indian, jadi mereka menyebut daratan itu sebagai “Tierra del Fuega” atau “Tanah Api”.


Sumber: https://mt27.co.id/bus-simulator-17-apk/

Comments are closed.