Panen tanaman Temulawak

Panen tanaman TemulawakPanen tanaman Temulawak

Ciri dan Umur Panen

Rimpang dipanen dari tanaman yang telah berumur 9-10 bulan. Tanaman yang siap panen memiliki daun-daun dan bagian tanaman yang telah menguning dan mengering, memiliki rimpang besar dan berwarna kuning kecoklatan.

3.6.2. Cara Panen
Tanah disekitar rumpun digali dan rumpun diangkat bersama akar dan rimpangnya.

3.6.3. Periode Panen
Panen dilakukan pada akhir masa pertumbuhan tanaman.

3.6.4. Perkiraan Produksi
Tanaman yang sehat dan terpelihara menghasilkan rimpang segar sebanyak 10-20 ton/hektar.

3.7. Pascapanen
3.7.1. Pengirisan
Setelah dicuci bersih dengan air mengalir atau dengan disemprot air rimpang ditiriskan dan kemudian diiris melintang setebal 7-8 cm dengan pisau tajam atau pengiris khusus.

3.7.2. Proses Penghentian Aktifitas Enzim
Untuk menghentikan proses biokimia yang terjadi di dalam rimpang dan menghindari terbentuknya zat-zat yang tidak diinginkan, irisan temu lawak dipanaskan dalam larutan natrium karbonat (Na2CO3) 0,1% selama 15 menit.

3.7.3. Pengeringan
Pengeringan irisian rimpang dapat dilakukan dengan dijemur di bawah sinar matahari atau dipanaskan di dalam alat pengering listrik.

Pengeringan dengan sinar matahari dilakukan dengan menjemur irisan rimpang di atas hamparan tikar, kardus/anyaman bambu selama 10-15 hari hingga kering. Dengan pengering listrik yang memiliki suhu udara antara 50-55 derajat C pengeringan hanya berlangsung sekitar 7 jam. Hasil pengeringan adalah rimpang temu lawak berwarna jingga dengan ketebalan 5-6 mm. Rendeman yang didapat adalah 10 % jika rimpang yang diolah berasal dari cabang dan 15 % jika berasal dari rimpang induk.

3.7.4. Pengemasan
Irisan rimpang dikemas di dalam peti, wadah plastik/kardus dengan kapasitas 20 kg.

IV. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA TANAMAN
4.1. Analisis Usaha Budidaya
Perkiraan analisis budidaya tanaman temulawak seluas 1.000 m2 per musim tanam (10 bulan) pada tahun 1999 di daerah Jawa Barat adalah:

Biaya produksi
Sewa lahan 1.000 m2
Bibit: 200 kg @ Rp. 300,-
Pupuk
– Pupuk kandang: 2,5 ton @ Rp. 100,-
– Urea: 13,5 kg @ Rp. 1.000,-
– SP-36: 10 kg @ Rp. 1.900,-
– KCl: 12,5 kg @ Rp. 1.650,-
Pestisida
Tenaga kerja
– Pembibitan
– Pengolahan lahan 6 HKP
– Pemberian pupuk kandang 4 HKP
– Tanam dan pupuk dasar 1 HKP+2 HKW
– Penyiangan, pupuk susulan & bubunan 2HKP+5HKW
Biaya panen dan pasca panen 2HKP + 5 HKW
Biaya lain-lain
Jumlah biaya produksi
Produksi rimpang segar 2.000 kg @ Rp.600,-
Pendapatan
Parameter kelayakan usaha
Rasio output/input

Rp.
Rp.

Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.

Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.

Rp.

150.000,-
60.000,-

250.000,-
13.500,-
19.000,-
20.625,-
30.000,-

10.000,-
60.000,-
40.000,-
25.000,-
57.500,-
57.500,-
75.000,-
868.125,-
1.200.000,-
331.875,-

= 1,382
Keterangan: HKP hari kerja pria, HKW hari kerja wanita.

4.2. Gambaran Peluang Agribisnis
Temulawak merupakan tanaman obat yang secara alami sangat mudah tumbuh di Indonesia dan telah lama digunakan sebagai bahan pembuatan jamu. Setiap produsen jamu baik skala kecil atau skala industri selalu memasukkan temulawak ke dalam racikan jamunya. Rimpang temulawak yang dikeringkan juga sudah merupakan komoditi perdagangan antar negara.

Indonesia dengan dukungan kondisi iklim dan tanahnya dapat menjadi produsen dan sekaligus pengekspor utama rimpang temu lawak dengan syarat produks dan kualitas rimpang yang dihasilkan memenuhi syarat. Kuantitas dan kualitas ini dapat ditingkatkan dengan mengubah pola tanam temulawak dari tradisional ke “modern” yang mengikuti tata laksana penanaman yang sudah teruji.

Selama periode 1985-1989 Indonesia mengekspor temulawak sebanyak 36.602 kg senilai US $ 21.157,2 setiap tahun. Negara pengekspor lainnya adalah Cina, Indo Cina dan Bardabos.

 

Recent Posts

Comments are closed.