Menumbuhkan Minat Baca Siswa dari Keluarga

Menumbuhkan Minat Baca Siswa dari Keluarga

Menumbuhkan Minat Baca Siswa dari Keluarga

Menumbuhkan Minat Baca Siswa dari Keluarga

Menumbuhkan Minat Baca Siswa dari Keluarga

Budaya membaca di Indonesia masih tertinggal jauh dari negara lain

. Berdasarkan penelitian Programme for International Student Assessment (PISA) 2015, Indonesia menempati urutan ke-68 dari 74 negara yang disurvei tingkat literasinya.

Peringkat ini sangat jomplang dibanding negara tetangga Singapura yang menempati urutan pertama dalam urusan membaca. Minat baca warga Negeri Singa sangat tinggi mengalahkan Hong Kong, Kanada, Finlandia, dan Irlandia yang berada di lima besar.

Hasil penelitian PISA ini seakan memperkuat survei 3 tahunan Badan Pusat Statistik (BPS) yang menyebut minat baca anak-anak di Indonesia hanya 17,66%, sedangkan sisanya lebih menyukai menonton. Anak-anak lebih memilih menonton televisi atau tayangan lain di gadget yang bersifat hiburan, misalnya, film kartun, sinetron, atau video di Youtube dibanding membaca buku, komik atau lainnya.

Menurut dosen Magister FITK UIN Jakarta

, Jejen Musfah, ada banyak faktor yang menyebabkan tingkat minat baca anak-anak Indonesia rendah. Paling utamanya adalah sebagian besar keluarga di Indonesia belum memiliki budaya membaca yang bagus. “Orang tua tidak terbiasa membaca, mereka lebih memilih menonton televisi. Membaca belum menjadi kebutuhan,” kata Jejen saat berbincang dengan SINDOnews, Sabtu (14/10/2017).

Budaya membaca dan menulis secara umum juga tidak dimiliki oleh masyarakat Indonesia. Mereka jarang sekali meluangkan waktu untuk membaca, baik itu buku, media cetak, komik, maupun novel. Dalam sebulan, seseorang belum tentu menghabiskan membaca satu buku sekali pun.

Kondisi ini diperparah dengan pihak sekolah

yang kurang maksimal dalam mendorong minat baca siswa. Sekolah yang semestinya memberikan fasilitas membaca bagi murid-murid malah terkesan tidak peduli. “Banyak sekolah tidak memiliki perpustakaan. Jangankan perpustakaan, ruang guru terkadang juga harus disekat dengan ruang kelas. Ini problem besar,” ujar Kepala Prodi Magister Manajemen Pendidikan Islam ini.

Bagi sekolah yang memiliki ruang perpustakaan, persoalan juga tidak selesai begitu saja. Sebab, banyak sekolah yang menunjuk seorang guru untuk mengelola perpustakaan. Sekolah tidak merekrut seorang pustakawan yang benar-benar paham bagaimana menyusun buku, administrasi, dan membuat suasana yang nyaman di perpustakaan.

Fakta lain yang ditemukan di perpustakaan sekolah adalah minimnya jumlah buku. Perpustakaan sekolah rata-rata tidak memenuhi standar minimal 1 buku untuk satu siswa. “Jika pun bukunya banyak, temanya sama semua, kurang beragam,” tutur Jejen.

Terkait hal ini, sebenarnya sekolah bisa mengakalinya menjalin kerja sama dengan penerbit. Menurut Jejen, jika kepala sekolah kreatif membuat proposal yang baik, maka penerbit akan senang memberikan bantuan buku ke sekolah-sekolah. Pihak sekolah hanya perlu mengeluarkan biaya untuk ongkos kirim buku-buku tersebut.

 

 

Sumber :

http://bpbd.lampungprov.go.id/blog/penjelasan-tumbuhan-paku/