Menristekdikti Tingkatkan Kualitas Vokasi dengan Sertifikasi Kompetensi

Menristekdikti: Tingkatkan Kualitas Vokasi dengan Sertifikasi Kompetensi

Menristekdikti: Tingkatkan Kualitas Vokasi dengan Sertifikasi Kompetensi

Menristekdikti Tingkatkan Kualitas Vokasi dengan Sertifikasi Kompetensi

Menristekdikti Tingkatkan Kualitas Vokasi dengan Sertifikasi Kompetensi

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir

mengatakan, dalam rangka meningkatkan kepercayaan industri dan masyarakat terhadap lulusan perguruan tinggi vokasi yang ada di politeknik dan universitas di Indonesia, maka pemerintah terus memperbaiki pendidikan tinggi vokasi. Salah satunya ialah agar mahasiswa dan para dosen memegang sertifikat kompetensi.

Nasir menyebutkan, para dosen vokasi itu untuk menunjukkan kompetensinya maka tidak hanya cukup memegang ijazah untuk mengajar saja. Namun dosen vokasi juga harus memegang sertifikat kompetensi yang sesuai dengan bidangnya

“Mahasiswanya kita dorong harus punya sertifikat kompetensi, tetapi ternyata dosennya tidak punya sertifikat kompetensi, maka perlu dilakukan yang namanya retooling. Saya sudah lakukan secara besar-besaran pada 2018 ini, meng-upgrade para dosen yang belum mendapatkan sertifikat kompetensi pada bidangnya, untuk mendapatkan sertifikat kompetensi, apakah di tingkat nasional maupun internasional,” ujar Nasir saat membuka Seminar Revitalisasi Pendidikan Tinggi Vokasi di Indonesia dengan topik “Implementasi Pendidikan Sistem Ganda (Dual System)” di Universitas Prasetiya Mulya, Jakarta, Rabu (17/7/2019).

Menurut Nasir, dalam upaya memberikan sertifikasi kompetensi kepada para dosen

, mereka harus mengikuti retooling atau pengenalan teknologi terbaru. Dalam hal ini, para dosen dikirim ke luar negeri seperti Swiss, Kanada, dan Jerman untuk belajar dan meraih sertifikat kompetensi bertaraf internasional.

Akan tetapi, Nasir menuturkan, kebijakan tersebut tidak berjalan mulus karena terkendala kesiapan dosen. Dalam hal ini, dosen yang dapat dikirim ke luar negeri hanya yang memiliki kemampuan bahasa Inggris terbaik. Tetapi, kenyataan masih banyak dosen yang belum memenuhi persyaratan tersebut, sehingga jumlah yang mendaftar sangat minim, jauh dari target pemerintah.

“Kalau yang internasional, bujet akan kita keluarkan, bahkan tahun lalu saya menganggarkan sampai 2.000 orang,

ternyata yang daftar hanya 300-400. Ternyata tidak mudah mencari orang. Dosen kita banyak, tapi ternyata tidak mudah mencari yang siap mengikuti program ini,”ujar Nasir.

Oleh karena itu, kata Nasir, untuk meraih sertifikat kompetensi, selain program mengirim dosen belajar di beberapa negara dengan vokasi terbaik, pihaknya juga memiliki skema pelatihan untuk dosen vokasi dalam negeri. Dalam hal ini, Kemristekdikti mengundang instruktur dari luar negeri untuk mendampingi para dosen vokasi selama menjalani pelatihan yang diselenggarakan di politeknik.

Sementara itu, untuk program sertifikas kompetensi untuk mahasiswa, menurut dia, sudah berjalan sejak 2017. Ada pun skemanya, para mahasiswa vokasi menjalani program perkuliahan 2 plus 2 yakni 2 tahun di Indonesia dan 2 tahun diluar negeri. Dengan begitu, ketika mereka lolos akan mendapatkan sertifikat kompetensi.

Mantan rektor Universitas Diponegoro (Undip) ini juga menyoroti banyak tenaga kerja di Indonesia yang belum memiliki sertifikasi, padahal dalam profesinya, ada hal yang perlu dipastikan, seperti keamanan kerja dan pelayanan kepada pelanggan. Salah satu pekerja yang belum banyak memiliki sertifikasi kompetensi adalah pekerja di bidang pariwisata.

“Untuk pariwisata, saya datang ke Labuan Bajo. Di Labuan Bajo itu spot untuk pariwisata bagus sekali. Pada saat saya datang ke lokasi itu pada 2017, nakhoda kapalnya saya tanya, “Bapak punya sertifikat menjadi nakhoda?” (Nakhoda tersebut menjawab),” Saya hanya turunan dari bapak saya.” Wah, ini bahaya juga. Kalau tenggelam, bagaimana. Ini tidak boleh, saya waktu itu berpikir seperti itu,” ujarnya.

Oleh karena itu, Nasir menuturkan, sangat diperlukan adanya pendidikan vokasi yang dekat dengan industri, banyak potensi daerah yang bisa diangkat dan menjadi unggulan, apabila para pekerjanya memiliki sertifikasi profesi dan bekerja sesuai standar profesional.

Sementara itu, mewakili pihak industri, Managing Director Sinar Mas, G Sulistiyanto mengatakan, berkumpulnya berbagai pihak dalam seminar fokus vokasi ini untuk menjawab ajakan pemerintah kepada sektor industri agar meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan vokasi.

 

Sumber :

http://sitialfiah.blogs.uny.ac.id/bedhaya-ketawang-dan-bedhaya-semang/