Mengadaptasi Teknologi Digital Sebagai Alat Pembelajaran yang Murah, Mudah dan Cepat!

Mengadaptasi Teknologi Digital Sebagai Alat Pembelajaran yang Murah, Mudah dan Cepat!

Mengadaptasi Teknologi Digital Sebagai Alat Pembelajaran yang Murah, Mudah dan Cepat!

Mengadaptasi Teknologi Digital Sebagai Alat Pembelajaran yang Murah, Mudah dan Cepat!

Mengadaptasi Teknologi Digital Sebagai Alat Pembelajaran yang Murah, Mudah dan Cepat!

Perkembangan teknologi tak perlu dilawan atau dihindari, namun harus diadaptasikan

dengan kebutuhan masyarakat saat itu. Sehingga bukannya tertinggal, tapi masyarakat Indonesia justru mampu bersanding dengan negara lain. Demikian penuturan Ginting Satyana, perwakilan dari pendidikan.id, dalam presentasinya di hadapan para guru dan karyawan Labschool UNESA.

Ginting Satyana, Dirut PT. Mahoni Edukasi Digital menjadi salah satu pembicara di Pembinaan Guru dan Karyawan Labschool UNESA

Ginting hadir sebagai salah satu narasumber dalam acara Pembinaan Guru dan Karyawan Labschool UNESA, yang diadakan Sabtu (13/05/2017) di Kampoeng Kidz Kota Batu. Di hadapan 150 orang peserta yang terdiri dari Guru dan Karyawan Labschool UNESA, Ginting menyampaikan materi bertopik Buku Sekolah Digital. Para peserta terlihat antusias menyimak presentasi yang disampaikan Ginting, karena fakta perkembangan teknologi digital yang semakin pesat, dimana guru dan karyawan institusi pendidikan dituntut untuk aktif berpartisipasi dalam perkembangan ini.

Menurut Ginting, peradaban selalu berevolusi termasuk bagaimana cara manusia baca-tulis dan berkomunikasi.

“Manusia purba berkomunikasi dengan media batu, lalu berkembang melalui bambu atau kulit, kemudian kertas. Setelah berabad-abad kertas menjadi media paling unggul dalam kegiatan baca tulis, kini pelan namun pasti tergantikan oleh media digital,” urainya. Karena peradaban selalu berjalan maju, tak ada alasan bagi masyarakat Indonesia untuk menolak. Apalagi, kata Ginting, di saat masyarakat negara-negara maju lainnya telah berjalan beriringan dengan majunya peradaban.

Suasana presentasi yang disampaikan oleh Ginting Satyana

Fakta ini dibarengi juga dengan berbagai problem pengadaan alat pembelajaran di Indonesia

yang seolah tak kunjung usai. Pertama, jelas Ginting, diperlukan anggaran besar untuk pengadaan buku setiap tahun, bagi siswa dan guru di Indonesia yang jumlahnya mencapai 53 juta. Kedua, lagi-lagi anggaran membengkak untuk mendistribusikan buku ke semua daerah di 17000 pulau di Indonesia. Terakhir, karena proses pengadaannya yang sangat komplek, harga buku menjadi sangat mahal. “Yang paling terbebani di sini tentu orang tua murid,” sesalnya.

Penggunaan teknologi digital sebagai media pembelajaran dinilai Ginting menjadi solusi terbaik. Di saat yang sama, ia menguraikan berbagai kelebihan pendidikan.id, portal dan aplikasi pembelajaran secara digital. “Hanya dalam satu genggaman layar, siswa bisa mengakses berbagai macam keperluan belajar. Seperti buku pelajaran, try out dan video pembelajaran,” katanya seraya menunjukkan tampilan laman pendidikan.id di gadget.

Selain untuk beradaptasi dengan perubahan zaman, konsep pembelajaran digital yang diusung oleh pendidikan.id, juga ditujukan untuk mengatasi permasalahan pengadaan buku di Indonesia. Sebagai contoh, disebutkan Ginting, penggunaan Buku Sekolah Digital dan try out online bisa menghemat waktu dan biaya untuk mendapatkan bahan belajar. Sementara Video Pendidikan Indonesia (VPI), berguna menjadi pengganti guru di luar jam sekolah. Sehingga melalui VPI, siswa tetap bisa mendapatkan penjelasan materi meski sedang tidak bertemu secara langsung dengan guru.

 

Sumber :

http://e-journal.unipma.ac.id/index.php/JPAUD/comment/view/516/1602/21502