Buku Pijar Indonesia "Mereka yang Berani Menantang Risiko"

Buku Pijar Indonesia “Mereka Yang Berani Menantang Risiko”

Buku Pijar Indonesia “Mereka yang Berani Menantang Risiko”

 

 

Buku ini terbit 13 Desember 2008. Judul buku “Mereka yang Berani Menantang Risiko: Motif Keterlibatan Mahasiswa ke dalam Pijar Indonesia.” Peluncuran perdananya dilakukan di Kafe Galeri Taman Ismail Marzuki. Hadir selaku pembahas Hermawan Sulistyo, Irine Gayatri (LIPI), dan Hariman Siregar (mantan aktivis mahasiswa 1974). Buku ini coba membedah isi dari sebuah ‘project’ gerakan sosial prodemokrasi Indonesia bernama Pijar Indonesia.

 

Buku Pijar Indonesia "Mereka yang Berani Menantang Risiko"

Buku Pijar Indonesia “Mereka yang Berani Menantang Risiko”

 

Organisasi

 

Organisasi ini merupakan metamorfosa dari organ pers mahasiswa di era 1980-an. Genealogi, Organisasi, Ideologi, dan Jaringan Aksi yang dibangun project tersebut diteropong oleh buku ini. Selain itu, penulis juga coba mengkonstruksi motif para partisipan mahasiswa yang terlibat di kelompok ini. Resensinya.

Kini, para aktivis yang pernah terlibat di Pijar Indonesia memasuki peta perpolitikan nasional. Sebagian ada yang masuk ke dalam partai politik. Namun, sebagian tetap di format gerakan sosial, dengan fungsi utamanya mengkritisi arah guliran transisi politik di Indonesia. Buku ini bertebal 196 halaman dan diterbitkan Teplok Press. Kata pengantar diberikan Arbi Sanit (Universitas Indonesia) dan Aris Santoso (mantan aktivis mahasiswa 1980-an).

 

Hadir dalam acara peluncuran buku A.M. Fatwa

 

Trimedya Panjaitan, Bambang Sulistomo, Berar Fathia, Frans Hendra Winata, dan Yeni Rosa Damayanti. Selain itu, beberapa mantan tokoh aktivis mahasiswa seperti Hendi Zipelius Johari (Universitas Nasional), Gustie Firdaus (Universitas Nasional), Ray Rangkuti (UIN Syarif Hidayatullah), serta Taufan Hunneman (Universitas Jayabaya) turut hadir untuk berpartisipasi di dalam acara.

Kata pengantar penulis sebagai berikut : Guliran transisi menuju demokrasi Republik Indonesia sudah lewat satu dekade. Cukup banyak perubahan yang terjadi, mulai dari masa administrasi Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati, maupun Susilo Bambang Yudhoyono.

Lahir banyak kebijakan-kebijakan populis semacam pembersihan korupsi melalui Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), penaikan gaji pegawai negeri dan militer, Bantuan Langsung Tunai, penaikan anggaran pendidikan, dan sejenisnya. Namun, ini pun bukan tanpa aneka kekurangan semacam diskontinuitas program dari administrasi pemerintahan yang satu ke lainnya, bermunculannya sektarianisme politik, upaya dekonstruksi ideologi negara, persoalan disintegrasi wilayah, dan sejenisnya. Memang, tidak ada kata selesai bagi sebuah proses.

 

Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

 

Seperti termaktub di sila kelima Pancasila— merupakan ideal typhus masyarakat Indonesia, yang tampaknya cuma bisa kita rasakan kehadirannya melalui proses menuju ke sana. Tugas elemen masyarakat, apapun bentuknya, adalah memastikan bahwa proses ke arah ideal typhus tersebut terus berjalan. Pelaksanaan tugas semacam ini pula yang diteropong oleh tulisan ini.

Melalui penelusuran atas motif keterlibatan sejumlah mahasiswa ke dalam entitas gerakan sosial, buku ini coba mengingatkan bahwa idealisme itu pernah dan harus tetap ada. Idealisme yang mereka salurkan melalui “project” gerakan sosial yang berdimensi plural semacam PIJAR Indonesia membawa kita ke masa ketika kebebasan berpendapat masih menjadi ‘barang mahal’ di bumi Indonesia.

Buku ini bermaksud agar substansi perjuangan di masa-masa yang termaktub di dalam content-nya tidak menjadi sekadar romantisisme sejarah. Selain itu, tulisan ini pun hendak mencatatkan di dalam sejarah Republik Indonesia, bahwa pernah ada salah satu organ masyarakat sipil yang care terhadap bangsanya. Meskipun bukan merupakan organ yang ‘safe’ dan ‘menjanjikan karir politik’ untuk digeluti, PIJAR Indonesia mencatatkan dirinya bahwa idealisme kesejahteraan dan keadilan di bumi Indonesia masih menjadi sebuah pilihan. [………] Dapatkan segera di toko buku terdekat anda. Terima kasih.

 

Sumber: https://www.gurupendidikan.co.id/