Anak Butuh Sikap Ilmiah dalam Menghadapi Bencana

Anak Butuh Sikap Ilmiah dalam Menghadapi Bencana

Anak Butuh Sikap Ilmiah dalam Menghadapi Bencana

Anak Butuh Sikap Ilmiah dalam Menghadapi Bencana

Dalam setiap bencana yang terjadi, dibutuhkan sikap ilmiah agar resiko

bencana di kemudian hari bisa dikurangi. Dan pengenalan sikap ilmiah harus lah dimulai sejak dini.
Dosen Psikologi UGM yang juga Co-Founder Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM), Novi Poespita Candra, berpendapat bahwa Indonesia memiliki kebutuhan krusial untuk mengajak anak sejak dini melihat sesuatu dengan sudut pandang lebih ilmiah. Indonesia mesti meniru Jepang dalam upaya pengurangan risiko bencana dengan mengajarkan sikap sadar bencana pada anak-anak sejak sangat dini.

“Sudah seharusnya anak diajak berpikir dan belajar berbasis masalah

(problem based learning) supaya bisa melihat bencana dari sudut pandang yang lebih ilmiah. Biar anak bisa jadi bagian dari problem solver masalah negara kita,” jelasnya.
Kepala Pusat Studi Kreativitas, Literasi, dan Pembelajaran Sepanjang Hayat Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Pangesti Wiedarti, mengatakan pentingnya anak-anak Indonesia sejak dini terbiasa menghadapi bencana. Bencana, baik yang terjadi secara alami seperti erupsi gunung berapi, gempa bumi, tsunami, maupun karena kelalaian manusia seperti kebakaran dan banjir akibat kerusakan alam, seharusnya sudah dijelaskan kepada anak di kehidupan sehari-hari.

Dan bukan hanya faktor-faktor penyebabnya saja, mereka juga harus mulai dididik

bagaimana melakukan upaya pencegahan dan penyelamatan ketika terjadi bencana.
“Di Indonesia, upaya demikian ini sayangnya belum jadi budaya,” kata Pangesti ketika dihubungi, Selasa (7/1) siang.
Peran Orang Tua di Rumah
ligrsiiv2fwmfyhwtgbz.jpg
Warga beraktivitas saat banjir di Kampung Pulo, Jakarta Timur, Kamis, 2 Januari 2020. Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan
Dalam keseharian di rumah, peran orang tua menjadi sangat penting agar anak lebih melek bencana. Orang tua harus bisa menjelaskan penyebab bencana seperti banjir, gempa, erupsi gunung berapi, tanah longsor, kebakaran, dan sebagainya secara ilmiah dengan bahasa yang sederhana sehingga mudah dipahami oleh anak.
“Misalnya anak diajak dialog, membaca buku cerita tentang banjir, tanya ke anak kira-kira menurut mereka banjir dari mana?” kata Novi.
Selain mengajak anak berdialog dan membaca cerita tentang banjir, orang tua juga bisa mengajak anak untuk melakukan eksperimen sederhana tentang banjir.

 

Sumber :

https://www.kakakpintar.id/

Comments are closed.