195 Sarjana Bersertifikat Profesional

195 Sarjana Bersertifikat Profesional

195 Sarjana Bersertifikat Profesional

195 Sarjana Bersertifikat Profesional

195 Sarjana Bersertifikat Profesional

Sebanyak 195 orang sarjana meraih sertifikat pendidik profesional. Sebelumnya,

para sarjana tersebut mengikuti program sarjana mendidik di daerah terluar, tertinggal dan terdepan (SM3T).

Rektor Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Furqon, mengatakan, para sarjana tersebut sebelumnya disebar dalam satu tahun terakhir di daerah terluar. Nah, mereka yang terseleksi dan lulus, terdapat sekitar 21 orang dari prodi PPB/Bimbingan Kinseling, 35 prodi PGSD, 19 orang prodi Pendidikan Geografi, 20 orang Pendidikan Bahasa Indonesia, 27 orang prodi Pendidikan Matematika, 21 orang prodi Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi, 20 orang prodi Pendidikan Ekonomi dan 32 orang PPGT dari prodi PGSD.

”Oleh karena itu, mutu guru sangat penting demi kemajuan mutu pendidikan di sebuah bangsa,

” katanya kepada Bandung Ekspres di kampus UPI, kemarin (18/2).

Dia mengatakan, tugas seorang guru sangat mulia. Sebab, masa depan generasi sebuah bangsa ada di pundak seorang guru. Terlebih lagi, meningkatkan kompetensi guru tidak bisa dibentuk dalam kurun waktu selama empat tahun. Sebab, kompetensi guru harus terus dikembangkan seiring dengan perkembangan zaman. Dengan begitu, nantinya menjadi guru yang profesional.

Menurutnya, pada 2035 Indonesia akan masuk pada 7 besar ekonomi maju di dunia. Dan pada 2045 di mana bangsa Indonesia akan merayakan kemerdekaannya ke-100. Di saat itu pula, Indonesia akan mengalami peningkatan peringkat ke-4 dengan income per kapita mencapai 50.000 US Dolar. Fenomena tersebut bukan terjadi dengan sendirinya.

Bagi dia, pada 2010 jumlah penduduk yang produktif melebihi jumlah penduduk yang tidak produktif.

Seiring sejalan dengan itu, maka sumber daya yang produktif harus mendapatkan pendidikan yang bermutu. Sehingga mempunyai kompetensi yang baik untuk beradaptasi dengan perubahan zaman.

”Tentunya harapan semua itu ada pada jiwa guru yang profesional. Tanpa guru yang bermutu bonus demografi tersebut bukan menjadi produktif melainkan akan menjadi beban bagi bangsa,” tegasnya.

 

 

Sumber :

https://miralaonline.net/teks-editorial/